hukumonline
Rabu, 14 December 2011
Dr Ima Mayasari SH MH:
Doktor Ilmu Hukum Termuda asal Jombang
Pernah menerima serangan ilmu hitam ketika menangani perkara sengketa pertambangan.
Inu
Dibaca: 4278 Tanggapan: 7
PDF  Print  E-mail
http://images.hukumonline.com/frontend/lt4ee82168413b9/lt4ee824976728a.jpg
Ima Mayasari meraih gelar Doktor di usia 28 tahun. Foto: Sgp

Menyabet gelar Doktor Ilmu Hukum di usia 28 tahun seharusnya menjadi prestasi yang sangat membanggakan. Tetapi, tidak demikian halnya bagi seorang Ima Mayasari. Dara asal Jombang, Jawa Timur itu justru menganggap prestasi itu biasa saja. Menurutnya, pengalaman dalam proses memperoleh gelar Doktor itu yang lebih berkesan dan membanggakan.

 

22 Oktober 2011 lalu, Ima dinobatkan sebagai Doktor Ilmu Hukum setelah berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan sidang terbuka akademik Universitas Indonesia. Sidang dipimpin Ketua Program Pascasarjana Prof Rosa Agustina yang juga merangkap penguji. Lengkapnya, disertasi Ima berjudul “Sengketa Izin Pertambangan di Era Otonomi Daerah Studi Kasus: Sengketa Izin Pertambangan antara Badan Usaha Milik Negara Pertambangan dan Kepala Daerah di Kabupaten Konawe Utara dan Kabupaten Halmahera Selatan (Periode Tahun 2007-2011)”.

 

Di laman law.ui.ac.id, Ima disebut sebagai Doktor termuda dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI). Dengan gelar ini, maka lengkap sudah jenjang pendidikan yang ditempuh Ima di FHUI. Mulai dari sarjana hukum (2005), lalu magister hukum (2007) dan doktor ilmu hukum (2011) direngkuh Ima di kampus yang terletak di Depok, Jawa Barat itu.

 

Kepada hukumonline, bertempat di kantornya di jalan Rasuna Said, Ima menuturkan rentetan gelar pendidikan yang kini disandangnya diperoleh dengan tidak mudah. Dia mengaku semuanya itu harus melalui proses yang panjang serta penuh pengorbanan dan perjuangan.

 

Terlahir sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, Ima merasa beruntung dibesarkan oleh orang tua yang menanamkan kemandirian sedari kecil. Kedua orang tua Ima juga berkomitmen menyekolahkan anak-anaknya, setidaknya hingga tingkat S-1. Setelah menyabet gelar SH, Ima pun langsung melanjutkan ke jenjang S-2, meskipun harus sambil bekerja.

 

Ketika menjalani pendidikan S-2, Ima menghadapi sejumlah rintangan. Salah satunya, kendala membagi waktu antara pendidikan dan pekerjaan. Selain itu, Ima juga harus menghadapi kendala jarak karena dia tinggal di Depok, sedangkan program S-2 digelar di Salemba, Jakarta. Lokasi kantor tempat Ima bekerja pun di Jakarta.

 

Menyiasati kendala jarak, Ima setiap harinya menggendong tas penuh dengan bahan kuliah dan pekerjaan, mengendarai sepeda motor yang dia miliki sejak zaman SMA di Jombang, hingga ke stasiun kereta. Selanjutnya, dengan pertimbangan menghemat dan menghindari kelelahan, Ima menggunakan kereta menuju tempat kerja dan kuliah S-2.

 

Meski dihadang sejumlah rintangan, Ima bertekad menerabas semua itu, dan terbukti berhasil. Menurut Ima, apa yang diraihnya saat ini tidak terlepas dari keinginan dari dirinya yang begitu kuat dan juga dukungan orang tua. “Saya punya kesempatan untuk menggapai gelar pendidikan tinggi, karena itu peluang tersebut saya harus manfaatkan bagaimanapun risiko yang harus dihadapi,” tukasnya semangat.

 

Segigih apapun Ima menjalani kehidupan ‘ganda’, kuliah dan kerja, pada akhirnya dia harus memilih salah satu. Ketika memutuskan untuk menempuh pendidikan S-3, Ima terpaksa berhenti bekerja. Selain agar dapat berkonsenstrasi penuh, Ima berhenti bekerja juga karena jadwal kuliahnya bersamaan dengan jam kerja.

 

“Kali ini harus benar-benar berhemat karena harus menguras tabungan karena tak lagi bekerja akibat waktu yang tak bisa diajak kompromi,” sebutnya. Beruntung, Ima menganggur hanya satu semester. Di semester kedua, dia mendapat pekerjaan di kantornya sekarang Zulfadli Soewito Law Office yang memberi kelonggaran kepada Ima untuk mengejar gelar S-3. Apalagi, jadwal kuliah juga mulai bisa diajak kompromi.

 

Uniknya, Ima memilih tema izin pertambangan daerah untuk disertasi diilhami oleh pengalaman mistis ketika menangani suatu perkara di suatu daerah pelosok. Dia mengaku pernah mendapat serangan ilmu hitam yang diduga dikirim oleh pihak tertentu yang tidak suka Ima menangani kasus itu. Ima menceritakan, tiba-tiba dia sadar ketika datang di pengadilan mengenakan baju sobek di beberapa bagian. Atau suatu merasakan pusing yang bukan kepalang ketika dirinya akan tidur pada malam hari.

 

Diterpa rintangan seperti itu, Ima tidak mundur. Dari pengalaman tersebut, dia justru melihat ada permasalahan hukum seputar izin pertambangan daerah yang layak diteliti, dan akhirnya menjadi bahan disertasi. Makanya, saat menangani perkara tersebut, Ima “sambil menyelam, minum air” alias sambil menangani perkara, penelitian, riset, serta pengumpulan bahan guna dijadikan disertasi S3.

 

Kini, setelah gelar pendidikan formal tertinggi sudah diraih, apa yang akan dilakukan Ima? Dia menjawab, “kini saya ingin membuktikan gelar ini bermafaat bagi banyak orang,” tutur perempuan berjilbab ini.

 

Selain itu, Ima juga memendam keinginan untuk mengajar. Kebetulan, tawaran sudah ada dari FHUI yang berencana membuka studi khusus mengenai hukum pertambangan. Hanya saja, Ima mengaku kesulitan membagi waktu. “Target lain juga ada nih, mengakhiri masa lajang saya,” pungkasnya sambil tertawa.

Share:
tanggapan
selamat berkaryaaktris nuryanti 25.04.12 10:24
ass.ww selamat atas keberhasilannya, saya ibu yg sudah lewat setengah abad dan baru mau menulis disertasi, if you dont mind.... izinkan saya membaca disertasinya ..... semoga bisa menambah wawasan saya... mengenai menulis sebuah disertasi..... wass ww
SELAMAT YA IMA....CATUR - JOMBANG 25.01.12 02:16
Selamat ya.... Hebat, saya turut senang atas keberhasilan kamu. Semoga prestasi dan gelar yang telah kamu peroleh bisa bermanfaat sesuai amanah Nya.
Selamat...Farid Ma'ruf 23.12.11 08:12
Selamat buat Ima,, smg ilmunya bermanfaat,, dan bs tetap istiqomah menegakkan hukum...kisah Ima ini akan mjd inspirasi bg semua utk tetap bs berprestasi dlm bidang apapun,, sekali lagi selamat...
sangat hebatagus susanto 18.12.11 13:37
sungguh menakjubkan putra daerah wanita lagi sangat pintar dan patut diteladani muga ilmu bisa berguna bagi masyarakat kecil dan bngsa tercinta
Luar Biasa dan Inspiratifsetiawan aji 15.12.11 12:39
Selamat buat mbak Irma.. Hebat dan Luar Biasa...sy juga mengalami hal yang sama... Belajar dan bekerja... Sangat sulit dan berat... Sayangnya saya tidak setangguh dan segigih mbak Irma... Semoga Tahun depan Tuhan memberi saya kemudahan menyusul mbak buat ambil S3. Tuhan Memberkati....
SalutRoziqin 14.12.11 16:15
Salut buat mbak Ima..sukses ya. Semoga ilmunya semakin bermanfaat buat sesama.
selamat ImaPalomes 14.12.11 14:29
selamat ya Ima, waktu kuliah s2 sama2 di UI dulu memang benar Ima adalah mahasiswi yg gigih, cerdas dan rajin kuliah....(tas ranselnya juga kelihatan berat tuh...:p)...tapi Ima sudah s3 sekarang dan itu sangat inspiratif...congrats Ima kami ikut bangga

Kirim Tanggapan
Nama
Email
Judul
Tanggapan
Jika anda member Hukumonline, silahkan login, atau Daftar ID anda.