Pagi itu, 12 September 2009, mungkin akan dikenang sebagai hari tersial bagi Jared dan Lindsay Rowley. Sepasang kekasih asal Texas, Amerika Serikat yang baru saja menikah sepekan itu kedatangan tamu ‘tak diundang’ atau bahkan ‘tak diharapkan sama sekali’ bernama Jesse Dimmick. Jesse bukan kerabat atau teman Jared dan Lindsay yang datang untuk mengucapkan selamat atas pernikahan mereka. Jesse adalah tersangka kasus pembunuhan yang tengah dikejar aparat kepolisian.
Setelah aksi kejar-kejaran yang seru, sialnya, mobil Jesse berhenti tepat di depan rumah Jared dan Lindsay. Jesse pun masuk dan langsung menjadikan sang tuan rumah Jared dan Lindsay sebagai sandera. Jesse cukup lama mendekam di rumah Jared dan Lindsay, sehingga mereka pun mulai terlihat akrab. Menurut kesaksian seorang tetangga, Jesse dan tuan rumah bahkan asik makan penganan sambil menonton film “Patch Adams” yang dibintangi Robin Williams.
Namun, sebagai orang yang disandera oleh seorang tersangka pembunuhan, Jared dan Lindsay tentunya berupaya melepaskan diri. Makanya, begitu Jesse terlelap tidur, Jared dan Lindsay langsung melarikan diri. Setelah itu, urusan Jared dan Lindsay dengan Jesse ternyata belum usai. Pasalnya, dua tahun kemudian, Jesse melayangkan gugatan pro se –penggugat mewakili dirinya sendiri tanpa pengacara- terhadap Jared dan Lindsay.
Pasutri itu dituding melanggar perjanjian tidak tertulis yang, diklaim Jesse, dibuat saat proses penyanderaan berlangsung. Menurut Jesse, dalam perjanjian itu, Jared dan Lindsay berjanji akan membantu menyembunyikan Jesse dari kejaran polisi. Imbalan jika janji itu dilaksanakan adalah uang yang jumlahnya tidak ditentukan.
Dikatakan Jesse, Jared dan Lindsay melanggar perjanjian karena mereka kabur sehingga polisi berhasil masuk dan membekuk Jesse. Naasnya, dalam proses penangkapan, polisi juga menembak bagian punggung Jesse. “Gara-gara tergugat melanggar janjinya, saya tertembak di bagian punggung yang hampir membunuh saya,” tutur Jesse dalam berkas gugatan yang didaftarkan di Pengadilan Distrik Shawnee County, Oktober 2011 lalu.
Tidak hanya itu, Jesse juga menuntut ganti rugi sebesar AS$235 ribu. Ganti rugi ini dituntut Jesse diantaranya untuk mengganti biaya pengobatan punggungnya yang tertembak. “Biaya rumah sakit lebih dari AS$160 ribu, saya tidak mungkin mampu membayarnya,” kata Jesse sebagaimana dilansir Topeka Capital Journal (http://cjonline.com).
Sebelum Jesse menggugat, Jared dan Lindsay sebenarnya terlebih dahulu menempuh langkah hukum yang sama. Jesse digugat Jared dan Lindsay memasuki perkarangan tanpa izin dan mengganggu ketertiban. Jadi, gugatan Jesse sebenarnya adalah serangan balik atas gugatan Jared dan Lindsay. Saat bersamaan, Jesse juga menggugat otoritas kota Topeka.
Menanggapi gugatan Jesse, Jared dan Lindsay membantah pernah membuat perjanjian. Kata mereka, kalaupun ada perjanjian, itu tidak mengikat karena dibuat dalam tekanan dan ilegal. Apalagi, perjanjian yang disebut Jesse tidak menyebutkan jumlah uang persisnya sehingga tidak layak disebut perjanjian. Berdasarkan dalil-dalil ini, Jared dan Lindsay meminta hakim menolak gugatan Jesse.
Sejauh ini, hakim Pengadilan Distrik Shawnee County memang belum menjatuhkan putusan. Tetapi, Jesse dan Jared beserta istrinya tentunya sedang harap-harap cemas bakal seperti apa akhir dari perkara ini. Yang pasti, mereka tidak lagi tinggal ‘serumah’, karena Jesse tengah mendekam di penjara, bukan hanya karena tuduhan pembunuhan tetapi juga tuduhan menculik Jared dan Lindsay.
Jadi, agar rumah anda tidak kedatangan tamu ‘tak diharapkan’ seperti Jesse, sebaiknya kunci rapat-rapat pintu dan pagar rumah anda. Waspadalah!
Sumber: